Arsip Blog

Budaya Organisasi #2 – Membedah Hakekat Budaya Organisasi

Telah kita pahami, bahwa keduukan budaya organisasi dalam usaha pencapaian tujuan organisasi tidak dapat dikesampingkan dari strategi manajemen maupun infrastruktur organisasi itu sendiri. Dari sana, pengetahuan dan keterampilan membangun budaya organisasi menjadi satu hal yang harus dimiliki oleh manajer untuk membantu mencapi tujuan organisasinya.

Bahasan berikutnya, bagi kita semua yang pengen membangun budaya organisasi, adalah tentang apa sih budaya organisasi itu?. Sedari pembahasan pertama kemarin kita telah berulang kali (kalo gak mau disebut puluhan kali) menggunakan istilah budaya organisasi. Tapi apakah itu?

Dalam bahasan sebelumnya, memang telah kita ulas sedikit tentang definisi umum budaya organisasi. Cukupkah? Belum tentunya. Kita perlu memberikan definisi yang lebih dalam. Dan tentunya lebih filosofis. Agar pemahaman kita bisa holistik, sistematis, integral, komprehensif, karbulator, dan distributor (loh, ngelatur ?)
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam topic kita kali ini adalah “Apa sih hakekat budaya organisasi?”
Oke, kuliah kita mulai :)

Sebelum kita mendefinisikan apa hakekat budaya organisasi, kita perlu tahu apa itu budaya? Yang jelas, ketika kita mendengar kata budaya, maka pikiran kita akan menggambar sebuah fenomena perilaku yang dilakukan oleh banyak orang. Alias lebih dari satu orang. Definisi demikian ini, dengan jelas membedakan antara budaya dengan perilaku personal.

Oke, kita dapat satu definisi baru, yaitu budaya merupakan perilaku kolektif atau beberepa orang. Tapi apakah definisi ini cukup? Bukankah banyak variasi perilaku kolektif itu?
Ya, tepat sekali. Tentunya ada banyak sekali variasi dari perilaku yang dijalankan oleh beberapa orang. Setidaknya ada 3 konsep yang berbeda yang kesemuanya merupakan perilaku kolektif, yaitu:

1. Perilaku kolektif. adalah perilaku yang dilakukan bersama-sama oleh beberapa orang. Perilaku kolektif khasnya didasarkan pada nilai yang bersifat temporer/ kasuistis. Misalkan: sekelompok orang yang sedang berada di pasar, sekalompok orang yang sedang antri sembako, dll. Kasus-kasus ini tidak dapat kita sebut sebagai budaya bukan?
2. Kesepakatan bersama. adalah perilaku yang dilakukan sebagai hasil dari perjanjian/ kesepakatan yang mengikat setiap pihak yang terkait. Misalkan: hukum yang diterapkan di sebuah negara, perjanjian kerja, dll. Fenomena semacam itu juga masih belum dapat kita definisikan sebagai budaya
3. Budaya. adalah nilai yang termanifestasikan/ teraktuskan secara sistematis dalam bentuk pola perilaku bersama & menghasilkan produk-produk budaya (artefak) lain. Misalkan: budaya kesopanan, budaya kerja keras, dll. Fenomena budaya ini bermula dari adanya sebuah kesepakatan (baik tertulis ataupun tidak) namun nilai-nilai dari kesepakatan tersebut telah merasuk dalam tiap personal. Sehingga mereka menjalankan kesepakatan tersbut dengan berpijak pada kesadaran. Dengan demikian, dapat kita tarik kesimpulan, bahwa sebuah budaya pasti identik dengan kesadaran perilaku pada suatu kelompok tertentu. Cukup jelas bukan?

Tabel berikut mungkin bisa memudahkan kamu semua buat memahami perbedaan budaya dengan yang bukan budaya:)

Bila kita kombinasikan dengan definisi di atas tadi, maka kita akanmendapatkan pengertian baru bahwa budaya merupakan perilaku kolektif atau beberepa orang yang teraktualisasikan dalam kesadaran perilaku tiap individu. Artinya, apabila sebuah perilaku kolektif dijalankan tidak dengan kesadaran (paksaan misalnya) maka hal itu masih belum dapat dikatakan sebagai sebuah budaya.

Sekarang kita sudah mendapatkan definisi tentang apa itu budaya:) berikutnya, kita akan masuk ke inti pembahasan, yaitu pa itu budaya organisasi?

Sebagai bentuk kolektifitas perilaku, maka budaya organisasi pun dapat dengan mudah kita sebut sebagai kolektifitas perilaku organisasi. Yaitu perilaku-perilaku organisasi yang dijalankan oleh sekelompok anggota organisasi secara sadar dan terpola. Itulah yang kita sebut sebagai budaya organisasi:)
Buaya organisasi, emm maksud saya budaya organisasi, yang merupakan pola perilaku anggota organisasi, sejatinya merupakan turunan dari tujuan organisasi. Bagaimana bisa? Logikanya seperti apa? Begini, setiap organisasi tentunya akan memiliki tujuan bersama yang ingin dicapai. Tentunya dari tujuan itu akan memunculkan strategi-strategi pencapaian, jelas? Dari strategi pencapaian tersebut, akan menuntut adanya perilaku anggota organisasi yang mengarah pada pelaksanaan strategi. Nah, ketika perilaku organisasi ini telah menjadi sebuah pola kebiasaan bagi setiap anggota organisasi, maka saat itulah tercipta yang namanya sebuah budaya organisasi! :)

Perlu diketahui juga, bahwa dengan berpijak pada konsep perilaku organisasi, maka nilai budaya organisasi yang terbentuk akan sejalan dengan bagaimanakah nilai perilaku organisasinya. Maksudnya, apabila perilaku organisasinya sejalan untuk mengarah ke tujuan organisasi maka budaya yang dihasilkan akan positif (karena mengarah pada pencapaian tujuan organisasi). Demikian sebaliknya, apabila perilaku anggota organisasi tidak lagi mengarah pada pencapaian tujuan organisasi, maka hasil budaya organisasi yang terbentuk akan negative (tidak sejalan dengan pencapaian tujuan organisasi)

Artinya, konsep budaya organisasi tidak hanya melulu berbicara bahwa budaya organisasi selalu bernilai positif, tapi adakalanya juga budaya organisasi akan bernilai negative (atau kontraproduktif terhadap pencapaian tujuan organisasi).
Dengan pijakan yang sama pula, yaitu perilaku organisasi, maka akan dapat kita simpulkan bahwa dalam sebuah organisasi bisa jadi aka nada beberapa nilai budaya yang berbeda. Kok bisa? Karena, dalam sebuah organisasi tidak tertutup kemungkinan adanya variasi perilaku organisasi yang dimiliki oleh setiap anggota organisasi. Secara, masing-masing punya karakteristik yang berbeda, sehingga wajar bila perilaku organisasinya pun akan berbeda. Dari perbedaan (variasi) perilaku organisasi ini, Maka nantinya akan dapat membentuk budaya organisasi yang beraneka ragam pula. Nantinya, budaya-budaya tersebut ada yang bersifat mayoritas (Dominant Culture) dan ada pula yang bersifat minoritas (Sub-Culture)
Secara lebih jelas, bida silihat di sketsa berikut :)

Oke, sekian dulu posting tentang budaya organisasi kali ini. Sampai jumpa pada topik-topik berikutnya 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.