Ketika Putri Pergi

Kisah ini bukan tentangku. Tapi tentang hidup dan makna di tiap detiknya.

..oOo..

Terbangun di pagi hari. Yang nampak dihadapanku hanya gambaran yang sama. Pagi ini begitu gelap. Seperti hari yang lalu, yang lalu lagi dan yang telah lalu. Kurasa pagi ini akan turun hujan. Aku tahu dari hawa sekitar yang  dingin. Sesekali guntur pun tak segan bergelak menertawakan manusia-manusia yang tergopoh-gopoh dituntun oleh dasi dan kopernya. Ya, mereka menuju kantornya masing-masing. Tempat di mana mereka duduk, bercengkrama, browsing internet dan berkirim email, memeriksa laporan dan menerima segepok duit di akhir bulan. Akupun salah satunya.

Tepukan di pundak dan sapaan hangat menyadarkanku dari sejenak lamunan pagi. Brahma. Teman sekantor yang meluangkan sedikti waktu paginya bertegur sapa denganku. Kukira dia menyapa dengan tersenyum. Aku tak melihat wajahnya. Aku hanya menduga dari suara yang keluar dari mulutnya. Dia duduk di sampingku. Aku tak tahu apa yang dilakukannya dan akupun enggan menoleh. Sampai saat ketika dia berujar sambil sedikit berteriak.

“Oh, my God! Semua inboxku terhapus bersih!”

Aku hanya mengerutkan dahiku. Mencoba menangkap maksud dari ujaran yang dia munculkan. Tanpa kuminta Brahma melanjutkan ujarannya. Seolah menjawab isyarat kebingungan yang kumunculkan.

“Aku menghapus SMS yang sangat penting bagiku. Aku mendapatkan SMS itu dari seorang teman yang terinspirasi denganku.”

Ujarnya yang begitu singkat semakin menambah pertanyaan dalam benakku. Teman? Terinspirasi? Maksudnya apa? Namun ku hanya diam. Menyimpan semua tanya dalam otak.

Niar, temanku yang lain, yang duduk di seberang belakang tempatku duduk sekarang ternyata juga mendengar ucapan Brahma.

“Terinspirasi bagaimana?”

Pertanyaan yang sama seperti apa yang ingin aku sampaikan ke Brahma. Namun enggan. Aku masih sibuk menata mejaku dan mulai menyalakan laptopku. percakapan berikutnya hanya melibatkan Brahma dan Niar. Tapi aku bisa mendengarnya. Brahma memulai cerita..

..oOo..

Dari apa yang disampaikan Brahma. Aku tahu bahwa SMS yang dia maksud berasal dari teman yang dia kenal dari dunia maya. Putri namanya. Yang terinspirasi dengan Brahma dari cerita teman Brahma yang juga teman Putri. Tak sekalipun mereka pernah bertemu. Hanya SMS yang membangun hubungan pertemanan mereka.

Brahma, aku dan Niar tinggal di Surabaya. Kami dulu sekampus dan sekarang kami sekantor meski berbeda pekerjaan. Putri, orang yang tidak kukenal dan tak juga Brahma, adalah remaja Bandung. Anak dari salah satu pelukis handal. Kaya. Tapi dia terlahir sebagai remaja yang aku rasa kurang beruntung. Terlahir dengan kondisi kaki yang cacat yang memaksanya menghabiskan waktu di atas kursi roda. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Dan ayahnya, sempat mencampakkan Putri dan menganggapnya seolah tiada.

Dari sini aku mulai tertarik untuk mendengar cerita Brahma lebih lengkap. Akupun diam. Brahma mengatakan kalau dia juga menaruh kagum pada sosok Putri. Dalam kondisi yang demikian, ternyata Putri pernah berucap pada Brahma kalau dia ingin menjadi seorang pengajar. Ya, Putri ingin mendirikan sebuah lembaga pendidikan untuk anak-anak yang kurang beruntung sepertinya. Mengabdikan dirinya untuk kebaikan masyarakat.

Sungguh mulia sekali hati anak ini, pikirku dalam hati. Aku menarik tangan dari laptopku. Memutar kursi. Menghadap Brahma. Ingin mendengarkan ceritanya lagi.

“SMS yang terhapus tadi adalah dari Putri. Itu adalah SMS terakhir darinya yang kuterima. di SMS itu Putri menyampaikan rasa terima kasihnya kepada ku karena bisa memberikan semangat baru dalam menjalani hidup yang selama ini dia anggap tidak adil. Aku ingat saat SMS itu kuterima, arloji di tanganku masih menunjukkan jam 7 pagi.”

Tanpa kusuruh Brahma melanjutkan ceritanya.

“Ku balas SMSnya dan menyuruhnya untuk selalu mensyukuri hidup dan menggunakannya untuk kebaikan masyarakat. Setelah kubalas, agak lama dia mengirimiku SMS lagi. Setelah kubaca, SMS ini berbeda. Kali ini dari bapaknya. Isi SMSnya semacam ini.” Brahma menunjukkan 1 SMS yang diterimanya dulu. Yang masih sempat dia simpan di hapenya.

Mas Brahma, ini bapaknya Putri. Terima kasih ya mas atas bantuannya selama ini buat Putri. Tadi jam 03.00 Putri dinyatakan meninggal dunia oleh dokter karena kanker otak, Mas. SMS yang Mas terima tadi itu saya yang ngetik. Itu pesan terakhir dari Putri yang ingin dia sampaikan ke Mas. Dia ingin sekali ketemu sama Mas Brahma. Kalau ada waktu, Mas bisa maen-maen ke Bandung.

Brahma, aku dan Niar diam sejenak setelah membaca SMS itu. Semua tak ada yang bersuara. Diakhir pembicaraan pagi ini, Brahma sempat berujar. “Malu ya seandainya kita, yang masih dianugerahi fisik yang lebih baik darinya, ternyata tidak pernah terpikir untuk memberikan hal terbaik kita bagi masyarakat.” Singkat namun dalam. Sangat dalam.

..oOo..

Cerita dari Brahma pagi ini mengisi satu ruang dalam lembaran catatan hidupku. Apa yang dia ceritakan mampu mengubah cara pandangku akan kehidupan yang aku jalani saat ini. Untuk selamanya.

..oOo..

Kuputar lagi kursiku dan kuhadap laptop di depanku yang sedari tadi sudah menyala. Aku meraba laci mejaku berharap menemukan headsetku dengan cepat. Sejenak kemudian, aku memasang headset di kepalaku, mencolokkan kabelnya ke lapotopku dan mengatur microphone-nya agar tepat di depan mulutku.

“Start Listening.” Ujarku. Seperti sebagaimana hari-hari biasanya caraku menjalankan program dari laptopku. Laptop spesial yang memang disediakan oleh kantorku untuk orang yang spesial seperti diriku.

“Open Microsoft Word.”

Tak lama setelah itu terdengar bunyi yang menandakan program yang kuinginkan telah terbuka dan siap digunakan. Kugerakkan jariku di atas keyboard spesialku. Mulai meraba-raba deretan huruf Braille yang tercetak di atasnya. Dengan perlahan aku tekan huruf-huruf itu satu per satu. Huruf yang tak pernah kulihat bentuknya semenjak aku hidup. Tapi aku bisa mengkira-kira bentuknya dengan membayangkannya ketika kusentuh. Sebaris kalimat dengan sedikit lama akhirnya terbentuk.

K-E-T-I-K-A-spasi-P-U-T-R-I-spasi-P-E-R-G-I-enter

..oOo..

Aku ingin membagi cerita ini kepada semua orang, termasuk kau. Aku ingin kau tahu. Bahwa siapapun kita, hidup akan jauh lebih indah bila kita berpikir positif dan berguna bagi semua. Terima kasih Tuhan. Kini aku merasa beruntung dengan apa yang kumiliki sekarang. Aku, yang buta ini, jauh lebih beruntung dari Putri. Dan pastinya kau pun begitu.

Taufan Arifianto

30 Oktober 2010

About Taufan

Ingatlah, angin itu akan selalu berhembus!

Posted on 15 Maret 2011, in Cerita Hikmah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. semoga Putri mendapatkan kebahagiaan yang kekal, dimasa depan kelak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: