Kisah 3 Botol Minuman Soda

Alkisah. Di sebuah pinggiran kota. Berdiri, setelah sekian puluh tahun lamanya, perusahan minuman soda. Hanya satu jenis minuman yang dibuat. Isi yang sama. Volume yang sama. Rasa yang sama. Bahkan botol dan barcodenya pun sama. Sekilas tak ada yang berbeda dari minuman-minuman bersoda itu. Dan nyatanya memang semuanya sama. Identik!

Pada suatu siang, sebelum proses pengiriman. Dalam sebuah box distribusi yang tertutup rapat. Samar-samar terdengar pembicaraan. Pembicaraan antara 3 botol minuman soda. Pembicaraan sederhana. Unik. Dan bahkan sering dilakukan oleh manusia. Tentang keistimewaan masing-masing. Tentang nilai dari masing-masing diri mereka.

Botol A berkata, “Aku merasa tidak memiliki keistimewaan di sini”

B menyahut, “Ya kita memang sama. Terlahir sama. Dan nantinya akan ‘mati’ dalam kondisi sama”

A menyahut lagi, “Betul itu. Bagaimana tidak sama. Kita dilahirkan dalam ukuran & bentuk yang sama. Disi dengan isi yang sama. Tutup yang sama. Semua sama. SAMA!”

“Kurasa, sampai kapanpun, kita tak akan bisa berbeda. Sampai kapanpun” B mengakhiri pendapatnya. Dengan mantab.

Pernyataan berbeda terdengar. Mengejutkan. C menjawab, “Aku rasa tidak. Kita semua bisa berbeda”

A dan B bingung. Saling melihat sekilas. Lalu bertanya, “Bagaimana bisa?” atau lebih tegasnya “Apa mungkin?”

C menjawab, “Pasti bisa. Tunggu saja J”

Brrmmm…

Belum sempat C melanjutkan jawabannya, terdengar pintu mobil menutup keras. Mesin mobil menyala. Terdengar sopir menginjak gas perlahan. Sedikit guncangan berikutnya menandakan bahwa mobil telah bergerak. Keluar dari perusahaan. Tempat botol minuman soda tadi ‘dilahirkan’. Mobil itu melaju. Terus melaju, meninggalkan ‘rumah minuman soda’. Menuju kota. Tempat para botol minuman soda akan belajar tentang hidup. Tentang nilai mereka dalam kehidupan.

-oOo-

1 jam 46 menit, berlalu. Dari waktu pertama kali suara mesin dinyalakan.

Mobil berhenti. Sesaat berikutnya mesin mobil berhenti menderu. Terdengar sopir & temannya yang (kukira) duduk disebelahnya berjalan ke belakang mobil. Menuju pintu box mobil. Kemudian pintu tersebut terbuka. Sesesat sinar matahari menyeruap masuk ke dalam ruangan box ini. Udara bebas, nan segar, tak mau ketinggalan menyerobot masuk ketika pintu telah benar-benar terbuka. Menjadi terang dan lebih segar. Seseorang, entah sopir atau temannya, mengambil satu krat botol minuman soda. Botol soda A ada di krat itu. 1 dari 24 botol lainnya. Botol A terlihat tersenyum.

“Aku akan tinggal di rumah baruku!” ujarnya. Lalu melambaikan salam perpisahan dengan botol B & botol C. dalam bahasa mereka tentunya.

Rumah baru bagi Botol A. Daerah yang baru. Manusia yang baru. Bahkan teman-teman yang baru. Rumah baru botol A adalah sebuah toko kecil di pinggir jalan. Luas toko tersebut mungkin hanya 3 kali box mobil yang dia tumpangi tadi. Tak apalah, pikirnya. Di sana botol ditempatkan bersama ‘teman-teman’ barunya. Ada si botol air mineral, botol multivitamin, botol isotonik dan banyak lagi. Banyak. Semuanya rata. Semuanya sejajar. Tidak ada yang istimewa. Mereka dipajang di atas sebuah etalase kecil toko itu, yang sudah mulah buram. Terteutup debu dan asap kendaraan. Sesekali botol soda mengamati teman-teman barunya. Ada yang masih bersih. Tidak sedikit juga yang sudah mulai dekil dan berdebu.

Sesaat berlalu, pemilik toko menuliskan sesuatu di sebuah kertas kecil. Sederet nama dan angka. Sulit terbaca dari jauh. Namun itu tentanngku, pikir Botol A. Berjalan mendekat. Pemilik toko meletakkan tulisan tersebut di atas botol yang berederet tadi. Itu adalah daftar harga minuman. Semua minuman memiliki harganya masing-masing. Dan di sana terlihat jelas. Minuman Bersoda, harga Rp 4.500,-

-oOo-

1 jam 4 menit. Kurasa selama itu mobil ini bergerak sejak kulihat seseorang mengangkat krat berisi botol A.

Mobil berhenti kembali. Aku bisa mengira apa yang akan terjadi berikutnya. Seseorang turun. Membuka pintu box. Mengangkat beberapa krat. Dan ternyata benar. Salah satu dari krat itu berisi botol B. ‘Rumah baru’ botol B sedikit berbeda, kurasa. Adalah swalayan kecil, rumah baru tempat botol B menjalani sisa hidupnya. Swalayan yang cukup luas. Hampir 5 kali dibanding luas toko tempat Botol A tadi.

Rumah baru Botol B sangat hebat. Banyak orang lalu lalang di sana. Menyusuri tiap lorong yang berbeda-beda. Beberapa berseragam. Kurasa mereka pengatur swalayan itu. Ada yang mengetik, ada yang keliling-keliling, ada yang menata barang. Ada juga, yang terakhir kulihat tadi, yang mengangkut barang-barang dari box untuk dipajang. Swalayan itu sungguh hebat. Di sana ada lemari pendingin. Wow, betapa sejuknya di sana! Sudah barang tentu botol B akan betah di sana.

Perlahan, namun pasti, botol-botol minuman dari krat tadi ditata. Setangahnya ditaruh di dalam lemari pendingin. Botol B salah satunya. Dia dipajang di deret kedua. Minuman dipajang berderet ke belakang di lemari pendingin itu. Di bagian depan terdapat tulisan, atau lebih tepatnya ketikan, nama minuman, berat minuman dan harga. Lebih detil kurasa. Di sana tampak jelas tertulis, Minuman Bersoda, 500 ml, Rp 5.500,-

-oOo-

2 jam tepat, dari swalayan tadi, mobil kembali berhenti. Mengantar krat terakhir, di tujuan terakhirnya.

Hey, mobil ini masih berada di sebuah pos satpam. 2 satpam kekar menanyakan beberapa hal kepada pak sopir. Mereka juga memeriksa isi di dalam box. Setelah 5 menit pemeriksaan, mesin kembali menderu. Mobil bergerak. Menuju sebuah lorong. Lorong yang cukup gelap, di bawah sebuah gedung besar. Berdindingkan kaca nan mengkilat. Berisi puluhan bahkan ratusan orang dari berbagai tempat. Kurasa tempat ini yang manusia sebut sebagai, hotel.

Mobil berhenti di bagian belakang gedung. Sama seperti sebelumnya, pintu terbuka, krat di turunkan, dan seterusnya. Di krat itu, botol C tersenyum bahagia. Mungkin ini salah satu bagian dari penjelasananya akan nilai dirinya.

Apakah perlakuan yang diberikan kepada botol C dan teman-teman minuman soda di krat tadi?

Istimewa, menurutku. Setibanya di sana, botol-botol di krat dilap dengan kain. Hingga kembali mengkilap. Bersih, tanpa debu. Botol-botol tersebut dibawa dalam ruangan khusus. Berderet-deret rak memenuhi ruangan tersebut. Rak yang unik. Bagaimana tidak, bentuknya lebih seperti sarang lebah yang berbentuk kotak, bukan segi enam. Kotak-kotaknya cukup untuk diisi 3-4 botol. Tapi tetap saja 1 botol mendapat 1 ‘tempat istimewa’. Perlakuan yang istimewa.

Apakah Botol C tidak akan diminum? Apakah dia tidak akan ‘mati’?

Aku mendengar, dari beberapa orang. Minuman-minuman di ruang itu juga akan mengalami ‘kematian’. Tapi kematian yang sangat berharga. Botol-botol itu akan diberi pita merah. Diletakkan pada timba kecil dengan beberapa potongan es batu. Ember tersebut ditempatkan di atas sebuah baki mengkilat. Beberapa gelas kristal cantik di tata rapi di kanan kirinya. Setiap orang kaya, tamu hotel di sini, mengeluarkan duit yang besar untuk sepaket minuman itu. Minuman bersoda, Rp 25.000,-

-oOo-

1 bulan berlalu. Pada suatu saat tertentu, botol A, botol B dan botol C bertemu lagi. Entah bagaimana prosesnya. Isi mereka kosong, kini. Sejenak saling bercerita tentang ‘kisah hidup’ masing-masing.

Botol A berkata, “Aku diletakkan begitu saja di atas etalase. Tidak diapa-apakan. Lingkunganku tidak merawatku. Aku pun hanya bernilai Rp 4.500,-“

Botol B menimpali, namun sedikit bangga, “Aku masih lebih beruntung darimu. Lingkunganku cukup baik merawatku. Aku didinginkan, sehingga orang membeliku seharga Rp 5.500,- lebih bagus Rp 1.000 rupiah darimu”

Botol C tidak mau kalah. Dia beruja, dengan bijaksana, “ inilah apa yang kumaksud dengan perbedaan nilai dari kita. Aku tinggal di lingkungan yang paling baik dari lingkungan kalian. Aku di rawat, didinginkan, dimake-up. Hargaku pun naik berkali-kali lipat. Rp 25.000,-“

Botol A dan botol B terdiam. C mengakhiri pembicaran, “Siapapun kita, terlahir dalam kondisi fisik dan isi yang sama. Akan bisa memiliki perbedaan, apabila kita tinggal di lingkungan yang baik. Maka carilah lingkungan yang baik itu, agar potensimu teroptimalkan dan nilaimu melesat tinggi ”

Botol A dan botol B bingung. Botol A berujar, “hey, C! tidakkah kau pikirkan apa yang baru saja kau katakan? Kita ini Cuma botol yang siap ditempatkan dimanapun. Kita tidak bisa memilih lingkungan kita! Apa guna saranmu untuk memilih lingkungan yang baik?”

Botol C menjawab, dengan santainya,

“Saran terakhirku bukan untuk kalian kawan. Tapi para manusia, pembaca tulisan ini. Yang sedari tadi mengawasi & mengikuti kisah hidup kita, sejak kita dilahirkan hingga kita ditempatkan di rumah masing-masing. Biar mereka mulai merenung (lagi) apakah lingkungan mereka kini cukup baik untuk meningkatkan nilai mereka di mata masyarakat”

Taufan Arifianto

17 Maret 2011

About Taufan

Ingatlah, angin itu akan selalu berhembus!

Posted on 17 Maret 2011, in Cerita Hikmah and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: