Gembala Cilik dan Teriakan Serigala

Kisah ini mengingatkan saya ketika dulu masih kecil, kecil sekali. Tempat mengaji saya, yang diasuh paklek saya sendiri, terkadang memberi cerita-cerita hikmah terhadap murid-muridnya. Tersebutlah saya, sebagai salah satu murid di sana, yang turut juga mendengarkan sebuah cerita. Tentang gembala cilik yang berteriak serigala. Mungkin anda semua pernah mengerti kisah ini. Tak apalah, toh hikmanya masih bisa kita amalkan kan? Sampai masa-masa nanti bahkan.

Cerita tentang bocah gembala kecil ini bermula di suatu dusun kecil, di wilayah jawa tengah. Begitu kata pak ustad saya dulu. Di dusun itu, semua warga terkenal baik hati & saling tolong-menolong. Tak terkecuali satupun. Bukan kehidupan namanya kalo tidak ada nila dalam se-belanga susu. Bukan kehidupan namanya kalo tidak ada yang nakal dalam masyarakat yang baik. Sebut saja si Bocah, gembala kecil yang memang terkenal jahil di dusun tersebut. Bocah ini dikenal warga sebagai anak yang berbibir tipis, alias suka ngomong seenaknya dewe. Setiap hari dia selalu menggembalakan kambing-kambing milik bapak-ibunya. Ditempat yang tak jauh dari keramaian dusun itu. 100 meter lah kukira.

Suatu hari, si bocah gembala ini membawa 12 ekor kambing besar-kecil ke lapangan tempat dia biasa menggembalakan. Setibanya di sana, dia, si gembala kecil tadi, membiarkan kambing keluyuran mencari irumput (dan apapun) yang ingin mereka mamah biak. Kerjaan yang Cuma menunggu dan menunggu ini membuat si bocah merasa bosan. Bosan sekali. Dalam hatinya, kalo 1 atau 2 jam sih masih tahan, tapi kalo mesti seharian jaga kambing-kambing ini, sumpek juga ya..🙂

Menghabiskan waktu menunggunya yang suntuk, bocah ini mencari-cari kayu dan mulai menggambar-gambari di tanah. Beberapa ‘lukisan’ telah dia hasilkan, namun tak juga menghilangkan suntuknya. Mencari aktifitas lain, bocah ini pergi mencari batang-batang rumput lalu menganyamnya sedemikian rupa menjadi sebuah gelang, yang kemudian dikenakan di tangan kirinya. Awalnya kejenuhannya sedikit reda ketika membuat gelang itu, namun siang hari yang mulai terik, mulai membakar ubun-ubun kepalanya dan kejenuhan pun semakin muncul.

Dalam kejenuhannya, yang coba dia atasi dengan berbaring di atas tanah berumpun, yang ternyata justru makin membuatnya stress lantaran paparan matahari siang yang langsung mengena wajahnya serta rumput-rumput & debu yang memicu gatal dipunggungnya, seberkas ide muncul. Entah bagaimana prosesnya.

Semenit kemudian, bocah ini terbangun dari tidurnya dan berlari ke jalan dusun sambil berteriak-teriak, “Serigala..! Serigala..! Tolong ada Serigala..!”

Wajahnya berteriak sejadi-jadinya, cara larinya seperti pencuri yang dikejar-kejar warga. Keringatnya bercucuran keras.

Sejurus kemudian semua warga berkumpul. Mengerumuni bocah tadi.

“Ada Serigala.. Hahhh..Hahh….” kata si bocah, di tengah nafasnya yang masih memburu

“Di mana? Di mana serigalanya?” tanya salah satu warga

“Di sana, di lapangan. Tempat kambing-kambing saya makan..” sambil menunjuk ke lapangan tempat dia menggembalakan kambing.

Kontan warga langsung menuju ke lapangan. Mereka mambawa peralatan lengkap. Gagang sapu, parang, clurit, cangkul, dll. Semua menuju ke lapangan. Dengan misi yang sama, membunuh serigala yang menyerang si bocah tadi.

Sampai di lapangan, membuat semua warga yang berbondong-bondong terperangah! Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat. Lapangan yang kosong dan damai dengen beberapa ekor kambing yang makan rumput dengan santainya.

“Mana serigalanya, bocah?” tanya salah satu warga

“Serigala?? Bwahaha…hahahaa…:D tidak pernah ada Serigala di sini bapak-bapak. Aku tadi hanya bercanda, jangan terlalu serius lah. Bwahahaa…hahaha…” jawab si bocah

“Mungkin Serigala itu bersembunyi” kata salah satu warga yang masih belum menyadari ulah si bocah

“Aku tadi suntuk sekali. Serigala hanyalah salah satu pelampiasan rasa suntukku. Sekarang pulanglah kalian semua, aku sudah tidak suntuk lagi. Bwahahaha…” kata bocah

Semua warga, tanpa terkecuali meninggalkan lapangan dengan tangan hampa & harapan yang pupus. Hati mereka pun dongkol kepada bocah kecil gembala.

Si bocah masih terkekeh-kekeh mengingat wajah-wajah lugu warga yang berdatangan ke lapangan. Dia tertawa, tertawa makin keras, lalu terlelap seiring dengan hembusan angin yang semilir. Merayakan kemenangannya..:)

Keesokan harinya, menggembala kambing yang sama, si bocah berencana membodohi warga dengan ulah yang sama. Agar lebih meyakinkan, hari ini si bocah sedikit berkorban, dia merobek-robek bajunya dan membawanya berlari menuju jalan dusun.

“Tolooong..! Toloooong..! Ada Serigalaaa….!” teriak bocah itu.

Perlu waktu agak lebih lama untuk mengumpulkan warga ke jalan daripada hari sebelumnya. Tapi, tetap saja warga yang baik itu berkumpul mengerumuni anak kecil tadi.

“Ada apa bocah kecil?“ tanya seorang bapak yang tergopoh-gopoh, sambil membawa sebilah parang, terhunus. Agak ngeri juga, si bocah menjawab,

“Anu pak.. tolong saya. Ada serigala lagi di lapangan. Lihatlah baju-baju saya yang robek-robek ini”

Sejenak mengamati baju si bocah yang memang robek, si bapak langsung percaya. Dia mengajak warga yang sudah berkumpul untuk segera ke lapangan. Membawa alat lengkap.

Sekali lagi, untuk membunuh si srigala. Warga berbondong-bondong, lagi. Menuju lapangan, tempat si bocah menggembalakan kambing-kambingnya. Nyatanya, sekali lagi, semua warga terperanjat. Hanya lapangan kosong dan beberapa ekor kambing sedang berlarian, dengan damai!

“Bocah, kau menipu kami lagi ya?” tanya salah satu warga

“Bwahahaha, habis, kupikir kalian lucu sekali. Masuk ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya” jawabnya sambil menahan tawa

“Kurang ajar kau!” salah saeorang mengangkat satu tangannya hendak memukul si bocah. Sebelum akhirnya dicegah oleh sesepuh desa.

“Sudahlah.. dia akan menerima pelajaran nantinya” kata sesepuh desa

Sedikit kaget dan takut akan dipukul, si Bocah masih saja menjawab, “kalian yang bodoh, kenapa aku yang disalahkan?” Si boca berlari, menuju kambing-kambingnya sambil bernyanyi riang.

Semua warga, sekali lagi, pulang dengan tangan hampa dan hati yang dongkol. Makin dongkol.

 

-oOo-

Sudah seminggu kurang sejak kejadian dia merobek-robek baju dan berteriak serigala, si bocah itu tak lagi mengusili warga dengan teriakan-teriakannya. Siang ini, si bocah, masih menggembalakan kambing yang sama di tempat yang sama. Seminggu tidak menjahili warga bikin gatal juga rupanya. Dalam hatinya terbersit niat untuk menjahili lagi warga dusun itu.

Sejenak terpikir ide jahil itu, dari jauh terdengar suara kambing berlarian. Seperti dikejar-kejar oleh sesuatu (atau seekor?). dari jauh, di balik semak terlihat dengan samar, seekor kambing dimangsa oleh 3 atau 4 ekor, serigala. Ya serigala. Entah dari mana keluarnya serigala itu, mereka memburu semua kambing si bocah yang lari tunggang langgang.

Dengan panik, si bocah berlari menyusuri jalan dusun dan berteriak-teriak. “Ada serigala sungguhan..! mereka memangsa kambing-kambingku! Toloooonggg…!!!” teriaknya, menyusuri jalan.

Namun, tak satupun warga yang menyahut. Mereka hanya melihat sekilas, lalu cuek. Warga melanjutkan kegiatannya masing-masing. Tanpa mempedulikan si bocah.

“Bapak-bapaakkk, tolooonggg sayaa…..!! habislah semua kambing-kambing sayaa….!!” teriak si bocah, yang masih saja tidak didengar.

Setengah jam dia berlari, 2-3 kali dia menyusuri jalan, tak ada yang peduli. Semua warga sibuk pada kegiatannya. Tak mempedulikan teriakan si bocah, tak mempedulikan air mata yang keluar dari kelopak mata si bocah, tak mempedulikan kambing-kambing yang terkoyak kawanan serigala, semuanya. Tanpa sisa!

About Taufan

Ingatlah, angin itu akan selalu berhembus!

Posted on 21 Maret 2011, in Cerita Hikmah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: