Pak Manaf: Tukang Tambal Ban Tua Berhati Mulia

Cerita ini terilhami dari kisah nyata. Yang aku alami, beberapa waktu lalu. Tepatnya sabtu sore, pas mau pulang ke rumah.

Seperti perjalanan pulang biasanya, jalan keputran kupilih sebagai alternatif. Cepet dan gak jauh dari kantorku. Dari sana ku lanjut ke jalan Polisi Istimewa, Diponegoro dan Mayjend Sungkono. Sebelum nantinya sampe di rumahkuJ

Baru 300 meter dari kantor, tiba-tiba kurasakan motorku oleng. Aku pernah mengalaminya, dulu. Dengan gejala oleng yang sama, aku pernah akan menjatuhkan adik-adikku yang ku bonceng. Betapa tidak, oleng itu adalah tanda bahwa ban depan motorku bocor. Susah sekali setir ku kendalikan. Hingga hamper menambrak mobil parkir di depanku. Itu pula yang kualami sore itu. Beberapa meter dari pasar keputran, kurasakan oleng yang sama. Banku pasti bocor pikirku. Kupelankan laju kendaraan. Berhenti sejenak, kutoleh ban depanku. Dan benar saja, banku uda kempes-pes. Mlethet kalo orang jawa bilang.

Sial sekali, pikirku. Tentunya kalian juga pernah merasakan hal yang sama. Dan pasti akan mengumpat hal yang sama :p Betapa tidak enaknya ban bocor di tengah jalan. Alamat bakal berkorban banyak. Waktu, tenaga dan tentu saja uang..

Itu pula yang kualami sore itu. Ban motor yang kemps, membuatku, mau tak mau, harus rela untuk berjala kaki menuntun motor yang cukup berat. Ku nyalakan saja motorku sambil kutuntun, biar gak berat-berat amat. Oiya, sore itu habis turun hujan, jalanan agak becek. Jadi makin ribet dengan celana yang gedombor-gedombor. Jadi makin merasa sial..

60 meter berjalan dari tempat kusadari banku bocor, membuat keringat mulai muncul. Lelah.

Namun, lelah itu tak akan bertambah lagi, pikirku. Kulihat ada warung kecil 10 meter di depanku. Ada papan putih bertuliskan kata-kata yang ditunggu-tunggu siapapun yang mengalami ban bocor di tengah jalan. Tembel Ban! Kutuntunlah kesana, dengan lebih cepat. Berharap dapat segera duduk di tempat yang biasanya di sediakan  oleh pemilik warung (tambal ban).

Pas nyampe di warungm ternyata ada seorang yang sudah tua banget. Kutaksir, usianya sudah mencapai kepala 7 ato 8 lah. Seusia nenekku di rumahJ

Kusapa sejenak, dengan dialek jawa kromo inggil, “nuwun sewu pak, badhe nembel ban (permisi pak, mau menambal ban)”

Si bapak melihat motorku, tanpa Tanya. aku memberi keterangan tanpa diminta, “ngajeng pak sing bocor (ban depan pak yang bocor)”

Ku-jagang motorku, kulihat ada tempat duduk yang cukup lebar. Keras sih, tapi lumayan daripada berdiri. Kuletakkan saja helm dan tasku di sana, sambil duduk-duduk santai menunggu motorku dipermakJ

Tolah-toleh kiri kanan, gak ada apa-apa. Rasa bosan menunggu mulai muncul. Padahal baru 5 menit aku duduk di sana, pikirku. Hrus dengan apa kuusir rasa bosan ini? Sejurus lalu, Kunyalakan music player dihapeku, lalu kupasang earphone. Kurasa ini bisa sedikit mengusir bosan yang kuidap. Dan tentusaja, kurasa bapaknya tidak akan Tanya apa-apa lagi, jadi gak masalah kalo kusumpal telingaku dengan earphone iniJ

Beberapa tembang mengalir, mengisi rongga dalam telingaku. Masih bisa kudengar bising kendaraan, namun gak dominan. Kulihat si bapak lagi utak-atik banku, dengan konsentrasi. Aku pun sama, konsentrasi mendengarkan lagu demi lagu yang beralun dari hapeku.

Pas giliran waktunya ban motorku dipanaskan (ban dalamnya yang ditambal), si bapak mulai membuka obrolan. Awalnya aku gak denger, dan emang gak teralu ku dengerin. Gerakan mulutnya, yang aku pun gak begitu paham apa yang diomongin, hanya kubalas dengan senyum. Tapi bapak ini kok gak diem-diem ya? Jadi penasaran dia ngomong apa.:p dari rasa penasaran itulah, kubuka telingaku dari earphone yang menyumpal, kata demi kata dari mulut si bapak terdengar jelas. Aku mulai manangkap ceritanya, kisah yang mengagumkan..

Si bapak bercerita, tentang beberapa pengalamannya yang saya kira luar biasa. Sehari-hari dia tinggal di warung itu. Ya, warung itu ternyata juga rumahnya. Dan jalanan depannya adalah halaman rumahnya. Hampir setiap kejadian di jalan itu, dia tahu. Cerita bermula dari pengantar, bahwa temannya, seorang tukang becak, pernah mengantar seorang bule dan dibayar dengan uang 100 dollar ato sejuta, bla bla bla..

Si bapak mengawali cerita, dengan bahasa jawa halus. Namun untuk kemudahan anda membacanya saya tulis dalam bahasa Indonesia aja yaJ

“saya dulu pernah mas nemu duit satu tas. Jadi ceritanya pas agak sore gitu mas, di depan situ ada ibu-ibu yang beli bebek goring di depan situ” si bapak menunjuk warung bebek goreng yang memang ada di depannya.

“pas si ibu mau berjalan pulang gtu mas, tasnya jatuh.. saya liatin aja” (pikriku, tas jatuh masak gak kerasa sih. Angap aja tas tangan lah)

“pas si ibu udah berjalan, tasnya saya ambil. Ndak saya buka mas. Si ibu say apanggil dengan agak teriak. –bu, tas nya jatuh-. Lalu saya kejar si ibu mas, pas nyampe saya bilang ke si ibu.-tasnya jatuh bu, tapi saya gak tau apa isinya, gak saya buka. Soalnya saya takut-“

Si bapak melanjutkan, “si ibu senyum mas. Sambil mengecek isinya, dia biilang terima kasih ke saya. Sedetik kemudian si ibu ngeluarin uang dari dalam dompet itu. 7 lembar seratus ribuan, 700 ribu di kasihkan ke saya”

Wah, banyak banget. Pikiku saat itu. Pasti si bapak ini akan menerimanya, pikirku. Beruntung banget nasibnya. Tapi ternyata pikiranku salah, salah besar.

Si bapak melanjutkan, “duitnya saya tolak mas. Gak saya terima”

Jderrr! Kayak dikeplak orang dari belakang. Saya kaget. Uang 700 ribu ditolak??? Gila apa ini orang..

“saya tolak duitnya mas. Saya bilang ke si ibu kalo niat saya Cuma 1, nolong orang. Bukan cari duit. Itu saja. Si ibu memaksa mas, tapi tetep saya tolak. Sampe akhirnya si ibu pulang”

“ceritanya belum berhenti sampe sini mas. Besoknya, dalam waktu yang relatif sama, di sore hari. Tiba-tiba ada mobil di depan warung saya. Tapi bannya gak kemps, mau apa mobil ini? Say abertanya dalam hati mas. Beberapa saat kemudian, turun duia orang laki perempuan, menghampiri saya. Saya ingat betul yang perempuan, ibu yang say atolong kemarin”

“saya sapa si ibu, -ibu yang ketemu kemarin ya?-

-iya pak, saya yang kemarin bapak tolong-

-ada apa ya bu?-

-ini loh pak, kemarin say acerita ke suami saya kalo bapak nolong saya dan gak mau saya kasih duit. Suami saya gak pecaya dan dia pengen ketemu bapak-“

Si bapak melanjutkan ceritanya ,“habis gitu saya cerita ke suaminya kronologis say anemu tasnya mas. Say acerita dengan jelas sampe selesei, lalu si suami bilang terima kasih ke saya mas. Lalu dia ambil duit dari dompetnya. Namanya godaan ya mas, sekarang duitnya malah 1 juta! Lebih banyak dari kemarin”

Saya sempet berpikit, kayaknya si bapak bakalan nerima tuh duit sejuta. Secara, tukang tambal ban mesti kerja berapa bulan buat ngumpulin duit segitu?? Namun, sayangnya pikiran dan niatan si bapak ternyata sekali lagi mematahkan dugaan saya. Lagi, dia menolak duit sejuta itu!

“saya tolak duit dari suaminya itu mas. Dipaksa sihm tapi tetep gak saya terima. Saya bilang ke suaminya –kemarin saya sudah bilang ke ibu kalo niat saya Cuma menolong. Kalo sekarang duitnya saya terima, berarti yang kemarin kurang donk?? Ndag pak, saya ndag mau nerima. Saya ikhlas buat nolong- si suaminya si ibu tadi memaksa beberapa kali, tapi karena saya tolak terus akhirnya dia kapok kayaknya mas. Dia bilang terima kasih besar ke saya. Terus cerita kalo duitnya di tas kemarin itu buat biaya anaknya kuliah, belasan juta. Habis cerita gitu, mereka pergi mas”

Saya masih melongo. Mendengar cerita dari si bapak.masih gak percaya dengan apa yang baru saja sya denger.

Sejenak, si bapak mengembalikan ban motor saya yang sudah di tambal. Beres. Saya mengeluarkan duit buat mbayar ongkos tambal ban. Sambil menyerahkan duti, say abertanya ke si bapak.

“bapak naminipun sinten? (bapak namanya siapa?)”

“bapak Manaf mas” jawabnya disertai senyuman. Senyum dengan gigi-gigi ompong yang menunjukkan betapa tuanya beliau.

“matur nuwun pak Manaf. Mugi rezekine lancer. Assalamualaikum” salam terakhir saya ke si bapak, lalu berlalu pergi. Masih sempet saya dengar pak Manaf menjawab salam saya, “Waalaikum salam”

Sepanjang perjalanan pulang, cerita pak Manaf masih terngiang dalam telinga saya. Dalam hati saya masih takjub, masih ada ya orang jaman sekarang yang seperti ini. terus terang saya kagum dengan beliau, semoga anda juga demikian.

Seandainya ada 500 orang yang berhati seperti pak Manaf. Pekerjakan mereka di gedung DPR. Pasti Negara ini akan jauh lebih baik. Seandainya saja..

Taufan Arifianto

28 Maret 2011

 

CAHKM2YHUHGE

About Taufan

Ingatlah, angin itu akan selalu berhembus!

Posted on 30 Maret 2011, in Cerita Hikmah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. waaooooowwwwwww……… 1jt ditolak hmmmmmmmmmmm………

    salam persahabatan selalu dr MENONE

  2. Suka banget sama statement terakhir, mas.. =)

  3. Pasti lah mas, aku gregetan sama para pemerintahan sekarang.. huhh. Pengen cepet tak gantikan.. haha
    Aminn.. tak doakan mas.. =))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: