Wawancara dengan Ayah yang Membunuh Bayinya Sendiri

Malang benar nasib Almira Safa Adinda. Bayi yang baru berusia 18 bulan itu tewas di tangan Mohamad Suryadi, ayahnya sendiri. Rara, panggilan Almira, dianiaya hingga tewas hanya karena menangis. Lelaki 24 tahun itu menghabisi Rara dengan cara menggigit tubuh dan membekapnya. Peristiwa ini terjadi di kamar kos pasangan suami istri (pasutri) Suryadi (24) dan Lusy Novita (29) di Jl Tubanan Lama No 20 Tandes, Surabaya, Kamis (14/4) malam. Hingga berita ini diturunkan, anggota Polsek Tandes masih memburu Suryadi yang memiliki rumah di kawasan Jetis Wetan I, Surabaya.

Mengapa Suryadi tega menganiaya bayinya yang mungil lucu hingga tewas? Berikut kutipan wawancara dengan tersangka oleh yang dirangkum tim jawapos:

Mengapa anda tega membunuh anak sendiri?

Saya tidak membunuhnya. Saya hanya memukul karena dia rewel. Saya tidak mengira anak saya sampai meninggal dunia. Tidak ada niat sama sekali untuk menghabisi nyawanya. Saya memang pernah ngomong ke Lusy (istrinya) “Ma, saya pengen anak lelaki”. Tapi bukan karena itu juga saya memukul Almira (bayi yang tewas). Saya jengkel sama istri saya yang membuat saya jengkel. Masa’ sudah mepet ekonomi, dia malas masak. Dan kalu saya pulang bawa uang Rp 30 ribu, selalu dimarahi.

Apa yang terjadi kamis (14/40 malam lalu saat istri anda membeli naso goreng?

Ketika itu saya melihat anak saya rewel. Terus saya pukul biar tidak menangis. (Dia memperagakan memukul anaknya teak di bagian tulang dada anaknya 2 kali. Kemudian anaknya menggeliat-geliat dan dipukul lagi bahunya). Setelah itu istri saya datang dan nangis-nangis. Saya marahi istri saya, “lha kamu beli nasi gorengnya kelamaan. Aku lapar, anak nagis terus”

Berapa kali anda menganiaya Almira?

Sumpah, saya itu sayang sama anak. Tapi, ya itu, saya jengkel sama istri saya. Kalau memukul, selain kamis juga rabu malam lalu (13/4). Selain itu eprnah sekali saya mengikat anak saya tapi saya lupa kapan.

Mengapa anda menolak ketika diajak mengantar Almira ke Rumah sakit?

Saya pikir Almira hanya kelelahan dan dia hanya tertidur. Makanya, waktu itu sya minta istri saya membiarkannya saja. Tapi karena istri saya mendesak untuk mengajak ke RS Muji Rahayu, akhirnya kami diantar tetangga untuk ke RS.

Kabarnya, anda sempat datang datang ke tempat kos pada jumat siang. Apa yang anda lakukan di sana?

Ya, saya ke kost untuk melihat kondisi kos saya. Waktu itu memang banyak tetangga yang lihat, tapi saya diam saja. Kemudian ibu kos saya ilang kalo saya disuruh ke polsek Tandes. Karena istri dan keluarga saya ada di sana. Tapi saya takut. Setelah itu, saya menumpang naik lyn (angkot) cokelat menuju Mayjen Sungkono. Saya juga lewat depan kantor Mapolsek Tandes.

Apakah anda menyesal setelah mengetahui bahwa almira meninggal?

Saya menyesal sekali. Saya tidak mengira dia meninggal setelah saya pukul. Perbuatan itu tidak akan saya ulangi. Saya tidak mengira kejadiannya seperti ini

Kabarnya istri anda hamil muda, apakah anda akan menyakiti bayinya setelah lahir nanti?

Ya, dia hamil 5 bulan. Saya tidak akan menyakiti anak saya lagi. Saya ingin anak lelaki

Sumber: Harian Jawapos 17 April 2011 (Metropilis)


About Taufan

Ingatlah, angin itu akan selalu berhembus!

Posted on 17 April 2011, in Sosialita and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: